Jurnal Ilmiah AdzDzikri
ISSN 1693-9360
SYED NAQUIB al-ATTAS (KEHIDUPAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM)
M. Qasthalani
ABSTRACT
Science is a human creative work invaluable for human life, which has
historically been able to bring the "initial shock"of problems of
mass-man has many beneficial human, but ultimately gave birth to a new
dilemma. Such as loss of past realities and their wisdoms behind
it, which is even more valuable to us human development, such as a sense
of depth, a sense of togetherness, a sense of beauty, spirituality sprint, the
spirit of morality, and community spirit
Key Words: Syed Naquib
Al-Attas Pemikiran Pendidikan Islam
Adz-Dzikri, Vol.13 No.01
Januari-Juni 2014
A.
PENDAHULUAN
Kajian tentang
konsep pendidikan Islam memang menarik didiskusikan dan dibahas secara
mendalam, walaupun hal itu beberapa kali telah diangkat menjadi tema kajian
oleh beberapa tokoh pemikir. Di hadapan dunia akademis, tema-tema seperti itu
terkesan sudah “sangat sering”, namun dinamika pemikiran intelektual selalu
tidak pernah puas dan final akan kajian yang serupa.
Memusatkan seputar kajian konsep pendidikan Islam dan Islamisasi
pengetahuan dilatar belakangi oleh rasa keingintahuan akan sebuah pemahaman
yang relatif komprehensif, mendalam, serta berusaha mengelaborasi
pemikiran-pemiran yang ada ke dalam konteks pergumulan pemikiran sekarang yang
jauh lebih dialektik
Ketika memasuki abad ke-18 terjadilah
desakan yang begitu hebat oleh penetrasi Barat terhadap dunia Islam, yang
membuat umat Islam membuka mata dan menyadari betapa mundurnya umat Islam itu
jika dihadapkan dengan kemajuan Barat. Untuk mengobati kemunduran umat Islam
tersebut, maka pada abad ke-20 mulailah diadakan usaha-usaha pembaharuan dalam
segala bidang kehidupan manusia termasuk dalam bidang pendidikan.
Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses
kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Tujuan pendidikan Islam
yang ada sekarang ini tidaklah benar-benar diarahkan pada tujuan yang positif.
Tujuan pendidikan Islam hanya diorientasikan kepada kehidupan akherat semata
dan cenderung bersifat defensif, yaitu untuk menyelamatkan umat Islam dan
pencemaran dan perusakan yang ditimbulkan oleh dampak gagasan Barat yang datang
melalui berbagai disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam
standar-standar moralitas tradisional Islam.
Pada dasarnya ada tiga pendekatan
pembaharuan pendidikan yang dilakukan pada waktu itu, yaitu pengislaman
pendidikan sekuler modern, menyederhanakan silabus-silabus tradisional dan
menggabungkan cabang-cabang ilmu pengetahuan lama dengan cabang-cabang ilmu
pengetahuan modern.
B. PEMBAHASAN
1.
Konsep
Pendidikan Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Ia menekankan pendidikan adab dalam proses pendidikan. Ia kurang setuju terhadap beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" seperti kata tarbiyah. Menurut Syed Naquib al-Attas, istilah tarbiyah bukanlah istilah yang tepat dan bukan pula istilah yang benar untuk memaksudkan pendidikan dalam pengertian Islam. Karena istilah yang dipergunakan mesti membawa gagasan yang benar tentang pendidikan dan segala yang terlibat dalam proses pendidikan, maka wajib bagi kita sekarang untuk menguji istilah tarbiyah secara kritis dan jika perlu menggantinya dengan pilihan yang lebih tepat dan benar[1].
Makna pendidikan menurut Syed Muhammad
naquib adalah pendidikan adalah sesuatu proses penanaman suatu kedalam diri
manusia. Suatu proses penanaman itu mengacu pada metode dan sistem untuk apa
yang disebut pendidikan secara bertahap. sesuatu mengacu pada kandungan yang ditanamkan.[2]
Setiap manusia tak
ubahnya sebuah miniatur kerajaan, respresentasi mikrokosmos (alam shaghir) dari
makrokosmos (al-alamul-kabir). Dalam Islam, tujuan mencari pengetahuan
pada puncaknya adalah untuk menjadi seorang manusia yang baik dan bukannya
seorang penduduk yang baik dari sebuah negara sekuler, maka sistem pendidikan
dalam Islam mestilah mencerminkan manusia, bukan negara.
Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas bentuk
sistem pendidikan Islam adalah pengetahuan, manusia, perwujudan paling tinggi
dan paling sempurna dari sistem pendidikan adalah universitas, dan mengingat
bahwa universitas merupakan sistemasi pengetahuan yang paling tinggi yang di
rancang untuk mencerminkan yang universal. Universitas modern yang berdasarkan
model-model barat tidak mencerminkan manusia, melainkan lebih mencerminkan
negara sekuler. Hal ini terjadi karena dalam peradaban barat, atau peradaban
dalam lain selain Islam, tidak pernah ada seorang manusia yang sempurnapun yang
bisa menjadi model untuk ditiru dalam hidup dan yang bisa di pakai untuk
memproyeksikan pengetahuan dan tindakan yang benar dalam bentuk universal
sebagai universitas.
Pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan
manusia karena pendidikan merupakan usaha melestarikan dan mengalihkan serta
mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspeknya dan jenisnya
kepada generasi penerus.[3]
Hanya
dalam Islam dalam pribadi suci Nabi saw. sajalah, manusia universal atau
sempurna itu ternyatakan. Karena konsep pendidikan dalam Islam hanya berkenaan
dengan manusia saja, maka perumusannya sebagai suatu sistem yang harus
mengambil model manusia sebagaimana tersempurnakan dalam pribadi Nabi saw. Banyak orang dan
organisasi Islam tidak puas dengan metode tradisional dalam mempelajari
al-Qur’an dan studi agama. Pribadi-pribadi dan organisasi Islam pada awal abad
20 berusaha memperbaiki pendidikan Islam baik dari segi metode maupun isi.[4]
Jadi Universitas Islam mesti mencerminkan Nabi dalam hal pengetahuan dan
tindakan yang tidak benar; dan fungsinya adalah untuk menghasilkan manusia,
laki-laki dan perempuan, sedekat mungkin menyerupai beliau.
2. Corak Pemikiran
Pendidikan Al-Attas
Apabila ditelaah dengan cermat,
format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas, tampak jelas
berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan
terpadu. Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya,
yakni tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan pendidikan dalam Islam
harus mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (Al-Insan
Al-Kamil). [5]
Insan kamil yang dimaksud adalah manusia yang
bercirikan: Pertama, manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua
dimensi kepribadian yaitu dimensi isoterikvertikal yang intinya tunduk dan
patuh kepada Allah dan dimensi eksoterik, dialektikal, horisontal, membawa misi
keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua, manusia seimbang
dalam kualitas pikir, zikir dan amalnya. [6] Maka untuk menghasilkan
manusia seimbang bercirikan tersebut merupakan suatu keniscayaan adanya upaya
maksimal dalam mengkondisikan lebih dulu paradigma pendidikan yang terpadu. Indikasi
lain yang mempertegas bahwa paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas
menghendaki terealisirnya sistem pendidikan terpadu ialah tertuang dalam rumusan
sistem pendidikan yang di formulasikannya, dimana tampak sangat jelas upaya Al-Attas
untuk mengintegrasikan ilmu dalam sistem pendidikan Islam, artinya Islam harus
menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya tidak hanya ilmu-ilmu
agama, tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis.
Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam Al Attas lebih
berorientasi pada Individu. Hal ini tidak hanya sebatas penekanan
tetapi juga sebagai strategi yang jitu pada masa sekarang. Penekanan
pada individu mengimplikasikan pengetahuan mengenai akal, nilai, jiwa,
tujuan, dan maksud yang sebenarnya dari kehidupan , sebab akal, nilai,
dan jiwa adalah unsur-unsur inheren setiap individu sedangkan
penekanan terhadap masyarakat dan negara membuka pintu menuju sekularisme,
termasuk di dalamnya ideologi dan pendidikan
sekular.
Dengan demikian tujuan pendidikan muslim adalah menciptakan manusia
yang baik dan berbudi luhur, yang menyembah Allah dalam
pengertian yang benar, membangun struktur kehidupan dunia sesuai dengan syari’ah
dan melaksanakan untuk menjunjung imannya.[7]
Dari deskripsi
di atas, dapat dilacak bahwa secara makro orientasi pendidikan Al-Attas adalah
mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga
prinsip keseimbangan dan keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam
konsepsinya tentang adab (Ta'dib)
yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal.
Di paparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam
tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan
ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama.
Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan
dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal
itu merupakan indikator bahwa pada dasarnya paradigma pendidikan yang
ditawarkan Al-Attas lebih mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif)
meskipun juga tidak mengabaikan aspek sensual–logis (kognitif) dan sensual-empiris
(psikomotorik). Hal ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni
aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan
Islami, dikenal adanya aspek transendental, yaitu domain iman disamping tiga
domain kognitif, afektif dan psikomotorik yang dikembangkan B.S.Bloom.[8] Domain iman sangat
diperlukan dalam pendidikan Islami, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut
hal-hal rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal yang supra rasional, dimana
akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali didasari dengan iman, yang
bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Domain iman merupakan
titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai hidup peserta didik, dan
dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal yang dilakukan. [9]
4. Kondisi Obyektif
Pendidikan Islam
Untuk
memotret bagaimana kondisi dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa
dicerna pandangan dan penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara
makro dapat disimpulkan bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi
pendidikan Barat. Walaupun statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu
dikaji ulang, tetapi ia sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk
memperbaiki wajah pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Fazlur Rahman Anshari yang selanjunya
dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam saat ini menghadapi suatu
krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya, sebagai akibat dari
benturan peradaban Barat dengan dunia Islam. [10]
Khursyid Achmad, seorang pakar muslim
asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang ditemui oleh sistem pendidikan
Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama, pendidikan telah gagal
mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar. Kedua,
pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati dan jiwa
generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran, tetapi
gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat
terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu
dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal
menghasilkan manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang
mendasar.[11]
Melihat kondisi pendidikan dewasa ini
sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi pendidikan
Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita pendidikan
Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari paradigma
pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita Islam.
Dalam wacana ilmiah,
setidaknya dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya
realisasi paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah
yang meruapakan pedoman hidup manusia untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan
akherat, baru bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui
pendidikan.
Disamping itu secara
fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah sebagai pendidikan utama
manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora juga termasuk
ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu. Ketiga, dalam memecahkan dan menganalisa
berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap seakan-akan
semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini dapat
diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal yang
disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal
Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena
kependidikan[12]
C.
SIMPULAN
Berdasarkan kajian Syed Naquib al-Attas, tujuan pendidikan Islam
hanya diorientasikan kepada kehidupan akhirat semata dan cenderung bersifat
defensif, yaitu untuk menyelamatkan umat Islam dan pencemaran dan perusakan
yang ditimbulkan oleh dampak gagasan Barat yang datang melalui berbagai
disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam standar-standar
moralitas tradisional Islam.
Berdasarkan analisis makna pendidikan Islam Syed Muhammad naquib
adalah nilai proses penanaman suatu kedalam diri manusia. Suatu proses
penanaman itu mengacu pada metode dan sistem untuk apa yang disebut pendidikan
secara bertahap dan sesuatu nilai mengacu
pada kandungan yang ditanamkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Achmadi, Ilmu Pendidikan
Islam (Salatiga: Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo, 1988)
Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung : Mizan, 1994)
Imam Bawani, Tradisionalisme dalam
Pendidikan Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)
Karel A, Steenbrink, Pesantren,
Madrasah, Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES,
1996)
Muhaimin, Konsepsi
Pendidikan Islam, Sebuah Telaah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani,
1991)
Muslih Usa, Pendidikan
Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1991)
Pendidikan S1 STIT Agus Salim
Program Study Pendidikan Agama Islam
lulus tahun 1999. Program Pascasarjana S2 Pada IAIN Raden Intan Lampung Jurusan Tarbiyah
Program Study Manajemen
Pendidikan Islam, lulus tahun 2010. Pangkat/Golongan : Lektor/III/c.
Jabatan Ketua STIT Agus Salim Metro
Periode 2012-2015. Serta dosen tetap
STIT Agus Salim Metro.
[2] Ibid h 36
[3] Muslih Usa, Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita
dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991)
h. 27
[4] Karel A, Steenbrink, Pesantren, Madrasah,
Sekolah Pendidikan Islam dalamKurun Modern, (Jakarta: LP3S, 1996) h. 96
[5]Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Op. Cit h.
55
[6] Achmadi, Ilmu Pendidikan
Islam (Salatiga: Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo, 1988) h. 77
[8]
Muhaimin, Konsepsi Pendidikan Islam,
Sebuah Telaah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani, 1991) h. 73
[10]
Muhaimain Loc. Cit
[11]
Achmadi, Op. Cit
h. 23