Senin, 05 Januari 2015

SYED NAQUIB al-ATTAS




      Jurnal Ilmiah AdzDzikri

                                                                  ISSN 1693-9360

SYED NAQUIB al-ATTAS (KEHIDUPAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM)


                                                                   M. Qasthalani



ABSTRACT

Science is a human creative work invaluable for human life, which has historically been able to bring the "initial shock"of problems of mass-man has many beneficial human, but  ultimately gave birth to a new dilemma. Such as  loss of past realities  and their wisdoms behind it, which is even more valuable to us human  development, such as a sense of depth, a sense of togetherness, a sense of beauty, spirituality sprint, the spirit of morality, and community spirit




Key Words: Syed Naquib Al-Attas Pemikiran Pendidikan Islam




Adz-Dzikri, Vol.13 No.01 Januari-Juni 2014





A.    PENDAHULUAN
Kajian tentang konsep pendidikan Islam memang menarik didiskusikan dan dibahas secara mendalam, walaupun hal itu beberapa kali telah diangkat menjadi tema kajian oleh beberapa tokoh pemikir. Di hadapan dunia akademis, tema-tema seperti itu terkesan sudah “sangat sering”, namun dinamika pemikiran intelektual selalu tidak pernah puas dan final akan kajian yang serupa.
Memusatkan seputar kajian konsep pendidikan Islam dan Islamisasi pengetahuan dilatar belakangi oleh rasa keingintahuan akan sebuah pemahaman yang relatif komprehensif, mendalam, serta berusaha mengelaborasi pemikiran-pemiran yang ada ke dalam konteks pergumulan pemikiran sekarang yang jauh lebih dialektik
Ketika memasuki abad ke-18 terjadilah desakan yang begitu hebat oleh penetrasi Barat terhadap dunia Islam, yang membuat umat Islam membuka mata dan menyadari betapa mundurnya umat Islam itu jika dihadapkan dengan kemajuan Barat. Untuk mengobati kemunduran umat Islam tersebut, maka pada abad ke-20 mulailah diadakan usaha-usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan manusia termasuk dalam bidang pendidikan.
Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Tujuan pendidikan Islam yang ada sekarang ini tidaklah benar-benar diarahkan pada tujuan yang positif. Tujuan pendidikan Islam hanya diorientasikan kepada kehidupan akherat semata dan cenderung bersifat defensif, yaitu untuk menyelamatkan umat Islam dan pencemaran dan perusakan yang ditimbulkan oleh dampak gagasan Barat yang datang melalui berbagai disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam standar-standar moralitas tradisional Islam.
Pada dasarnya ada tiga pendekatan pembaharuan pendidikan yang dilakukan pada waktu itu, yaitu pengislaman pendidikan sekuler modern, menyederhanakan silabus-silabus tradisional dan menggabungkan cabang-cabang ilmu pengetahuan lama dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan modern.

B. PEMBAHASAN
1.      Konsep Pendidikan Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas

         Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Ia menekankan pendidikan adab dalam proses pendidikan. Ia kurang setuju terhadap beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" seperti kata tarbiyah. Menurut Syed Naquib al-Attas, istilah tarbiyah bukanlah istilah yang tepat dan bukan pula istilah yang benar untuk memaksudkan pendidikan dalam pengertian Islam. Karena istilah yang dipergunakan mesti membawa gagasan yang benar tentang pendidikan dan segala yang terlibat dalam proses pendidikan, maka wajib bagi kita sekarang untuk menguji istilah tarbiyah secara kritis dan jika perlu menggantinya dengan pilihan yang lebih tepat dan benar[1].
           Makna pendidikan menurut Syed Muhammad naquib adalah pendidikan adalah sesuatu proses penanaman suatu kedalam diri manusia. Suatu proses penanaman itu mengacu pada metode dan sistem untuk apa yang disebut pendidikan secara bertahap. sesuatu  mengacu pada kandungan yang ditanamkan.[2]
     Setiap manusia tak ubahnya sebuah miniatur kerajaan, respresentasi mikrokosmos (alam shaghir) dari makrokosmos (al-alamul-kabir). Dalam Islam, tujuan mencari pengetahuan pada puncaknya adalah untuk menjadi seorang manusia yang baik dan bukannya seorang penduduk yang baik dari sebuah negara sekuler, maka sistem pendidikan dalam Islam mestilah mencerminkan manusia, bukan negara.
          Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas bentuk sistem pendidikan Islam adalah pengetahuan, manusia, perwujudan paling tinggi dan paling sempurna dari sistem pendidikan adalah universitas, dan mengingat bahwa universitas merupakan sistemasi pengetahuan yang paling tinggi yang di rancang untuk mencerminkan yang universal. Universitas modern yang berdasarkan model-model barat tidak mencerminkan manusia, melainkan lebih mencerminkan negara sekuler. Hal ini terjadi karena dalam peradaban barat, atau peradaban dalam lain selain Islam, tidak pernah ada seorang manusia yang sempurnapun yang bisa menjadi model untuk ditiru dalam hidup dan yang bisa di pakai untuk memproyeksikan pengetahuan dan tindakan yang benar dalam bentuk universal sebagai universitas.
    Pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan manusia karena pendidikan merupakan usaha melestarikan dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspeknya dan jenisnya kepada generasi penerus.[3]
         Hanya dalam Islam dalam pribadi suci Nabi saw. sajalah, manusia universal atau sempurna itu ternyatakan. Karena konsep pendidikan dalam Islam hanya berkenaan dengan manusia saja, maka perumusannya sebagai suatu sistem yang harus mengambil model manusia sebagaimana tersempurnakan dalam pribadi Nabi saw. Banyak orang dan organisasi Islam tidak puas dengan metode tradisional dalam mempelajari al-Qur’an dan studi agama. Pribadi-pribadi dan organisasi Islam pada awal abad 20 berusaha memperbaiki pendidikan Islam baik dari segi metode maupun isi.[4]
   Jadi Universitas Islam mesti mencerminkan Nabi dalam hal pengetahuan dan tindakan yang tidak benar; dan fungsinya adalah untuk menghasilkan manusia, laki-laki dan perempuan, sedekat mungkin menyerupai beliau.

2.   Corak Pemikiran Pendidikan Al-Attas
            Apabila ditelaah dengan cermat, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas, tampak jelas berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan terpadu. Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan pendidikan dalam Islam harus mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (Al-Insan Al-Kamil). [5]
      Insan kamil yang dimaksud adalah manusia yang bercirikan: Pertama, manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian yaitu dimensi isoterikvertikal yang intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan dimensi eksoterik, dialektikal, horisontal, membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua, manusia seimbang dalam kualitas pikir, zikir dan amalnya. [6] Maka untuk menghasilkan manusia seimbang bercirikan tersebut merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih dulu paradigma pendidikan yang terpadu. Indikasi lain yang mempertegas bahwa paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas menghendaki terealisirnya sistem pendidikan terpadu ialah tertuang dalam rumusan sistem pendidikan yang di formulasikannya, dimana tampak sangat jelas upaya Al-Attas untuk mengintegrasikan ilmu dalam sistem pendidikan Islam, artinya Islam harus menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya tidak hanya ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis.
    Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam Al Attas lebih berorientasi pada Individu. Hal ini tidak hanya sebatas penekanan tetapi juga sebagai strategi yang jitu pada masa sekarang. Penekanan pada individu mengimplikasikan pengetahuan mengenai akal, nilai, jiwa, tujuan, dan maksud yang sebenarnya dari kehidupan , sebab akal, nilai, dan jiwa adalah unsur-unsur inheren setiap individu sedangkan penekanan terhadap masyarakat dan negara membuka pintu menuju sekularisme, termasuk di dalamnya ideologi dan pendidikan sekular.  
    Dengan demikian tujuan pendidikan muslim adalah menciptakan manusia yang baik dan berbudi luhur, yang menyembah Allah dalam pengertian yang benar, membangun struktur kehidupan dunia sesuai dengan syari’ah dan melaksanakan untuk menjunjung imannya.[7]
           Dari deskripsi di atas, dapat dilacak bahwa secara makro orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang adab  (Ta'dib) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal.
     Di paparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
           Hal itu merupakan indikator bahwa pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan aspek sensual–logis (kognitif) dan sensual-empiris (psikomotorik). Hal ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan psikomotorik yang dikembangkan B.S.Bloom.[8] Domain iman sangat diperlukan dalam pendidikan Islami, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut hal-hal rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Domain iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal yang dilakukan. [9]

4.  Kondisi Obyektif Pendidikan Islam
           Untuk memotret bagaimana kondisi dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan Islam yang dicita-citakan.
          Fazlur Rahman Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam. [10]
          Khursyid Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama, pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran, tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar.[11]
          Melihat kondisi pendidikan dewasa ini sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi pendidikan Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita pendidikan Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari paradigma pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita Islam.
     Dalam wacana ilmiah, setidaknya dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya realisasi paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah yang meruapakan pedoman hidup manusia untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan akherat, baru bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui pendidikan.     
    Disamping itu secara fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah sebagai pendidikan utama manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora juga termasuk ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu.  Ketiga, dalam memecahkan dan menganalisa berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap seakan-akan semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini dapat diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal yang disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena kependidikan[12]

C.    SIMPULAN
     Berdasarkan kajian Syed Naquib al-Attas, tujuan pendidikan Islam hanya diorientasikan kepada kehidupan akhirat semata dan cenderung bersifat defensif, yaitu untuk menyelamatkan umat Islam dan pencemaran dan perusakan yang ditimbulkan oleh dampak gagasan Barat yang datang melalui berbagai disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam standar-standar moralitas tradisional Islam.
     Berdasarkan analisis makna pendidikan Islam Syed Muhammad naquib adalah nilai proses penanaman suatu kedalam diri manusia. Suatu proses penanaman itu mengacu pada metode dan sistem untuk apa yang disebut pendidikan secara bertahap dan sesuatu nilai  mengacu pada kandungan yang ditanamkan.





DAFTAR PUSTAKA

Achmadi,  Ilmu Pendidikan Islam  (Salatiga: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 1988) 
Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung : Mizan, 1994) 
Imam Bawani, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993) 
Karel A, Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1996)
Muhaimin, Konsepsi Pendidikan Islam, Sebuah Telaah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani, 1991) 
Muslih Usa,  Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991) 


Pendidikan S1 STIT Agus Salim Program Study Pendidikan Agama Islam  lulus tahun 1999. Program Pascasarjana S2 Pada IAIN  Raden Intan Lampung Jurusan  Tarbiyah  Program Study Manajemen  Pendidikan Islam, lulus tahun 2010. Pangkat/Golongan : Lektor/III/c. Jabatan Ketua STIT Agus Salim  Metro Periode  2012-2015. Serta  dosen tetap  STIT Agus Salim Metro.



     



 [1] Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung : Mizan, 1994)  h.   35
[2] Ibid  h  36
[3] Muslih Usa,  Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991)  h.   27
[4] Karel A, Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah Pendidikan Islam dalamKurun Modern, (Jakarta: LP3S, 1996)  h.   96
[5]Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib. Op. Cit    h.   55
[6] Achmadi,  Ilmu Pendidikan Islam  (Salatiga: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 1988)  h.   77
[7] Imam Bawani, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993)  h.   59
[8] Muhaimin, Konsepsi Pendidikan Islam, Sebuah Telaah Komponen Dasar Kurikulum, (Solo: Ramadhani, 1991)  h.   73
[9] Ibid    h   74
[10] Muhaimain  Loc. Cit
[11] Achmadi,  Op.  Cit   h.   23
[12] Ibid    h.   9

 Adz-Dzikri, Vol.13 No.01 Januari-Juni 2014